Pendekar Keadilan telah gugur meninggalkan inspirasi bagi insan hukum

Prof. Dr. Artidjo Alkostar

PENDEKAR Keadilan Ini adalah mantan Hakim Agung RI, dan dalam jabatan terakhirnya sebagai Dewan Penasihat KPK.Selama berkiprah dalam dunia peradilan sebagai Hakim Agung, yg mulia Ini membuat para Terpidana kasus Tipikor Ketakutan. Baik dalam upaya Kasasi maupun melakukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali (PK). Sikap ciut para terpidana Korupsi Ini memiliki alasan yg mendasar dan banyak yg tdk mau lagi melanjutkan upaya hukum, baik Kasasi maupun PK hal ini karena disana ada PENDEKAR keadilan bagaikan singga yg selalu menunggu Terpidana yg melakukan Kasasi sebagai makanan empuk bagi dirinya utk menvonis jauh lebih berat dari pada Vonis pada tingkat pengadilan dibawah sebelumnya.

Almarhum adalah Hakim yg berani, tidak hanya kepada Terpidana, tetapi juga kepada para sejawat para Hakim Agung.
Almarhum berani menentang dan berbeda pendapat (disseting Opinion) dalam putusan Perkara dgn para Hakim Agung lainnya.ini menunjukan bahwa dirinya sangat serius dalam pemberantaaan kejahatan Korupsi(Corruptie)

PENDEKAR Keadilan adalah Hakim ARTIDJO yg memberikan putusan berat tanpa memandang siapapun orgnya, baik pejabat negara maupun pejabat politik beliau vonis tanpa ampun.

Sikap yg sederhana dan cinta dgn kemiskinan membuat dirinya dikenal sebagai kaum idealisme,tidak terepengaruh pada keterbatasan ekonomi/materi atau kekayaan.

Hal yg tdk pernah dilupakan ketika melakukan audience dgn beliau, sangat nampak semangatnya dalam Pemberantaaan Korupsi karena menurutnya dampak dari Korupsi adalah kemiskinan dan juga merusak citra tataran hukum dan keadilan sosial.

Kita wajib menjadikan dirinya sebagai inspirator, sikap yg sederhana,tegas dan rendah hati selalu tergambar dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Banyak nara pidana yg mengurungkan niat utk melakukan upaya Kasasi misalnya dalam kasus Korupsi Trans Jakarta, karena mereka takut disana ada pendekar keadilan beliau Artidjo Alkostar yg siap memangsa mereka dengan hukuman berat.

Keciuatan para nara pidana ini memiliki alasan dan pertimbangan yg matang, maju kena mundurpun kena, upaya uang sebagai sarana suap tidak laku dihadapan beliau, karena beliau tidak mudah dipengaruhi utk mengurangi putusan, apalagi bebas sehingga mereka memilih mundur dari pada mendapat vonis yg lebih berat lagi dari tingkat pengadilan
sebelumnya.

Masih dalam Ingatan kita bersama, kasus Artis/politikus Partai Demkorat Anjelina Sondak,
dan Anas Urbanibgrum, Luthfi Hasan Ishaag dari PKS, ketika mereka melakukan Kasasi bukan dibebaskan atau setidak-tidaknya mendapat pengurangan hukumannya, Justru sebaliknya almarhum memvonis mereka lebih berat lagi, dimana Anas Urbaningrum 8 (delapan) tahun menjadi 14 (empat Belas) tahun dan Anjelina Sondak 12 tahun penjara, jauh lebih berat dari putusan pengadilan sebelumnya.

Sikap lain yg berbanding terbaik adalah ketika almarhum Artidjo juga membebaskan seorang pemuda yang dipaksa Polisi untuk mengakui kalau dia membawa ganja. membebaskan seorang kuli angkut yang sudah divonis 6 bulan karena dituduh membeli sabu. Artidjo adalah musuh para terpidana Korupsi di sisi lain juga malaikat yg penyelamatkan hak hidup dan kemerdekaan terdakwa lain yg sejatinya tidak melakukan tindakan pidana apapun atau tidak terbukti bersalah.

Sampai pada titik Ini, menunjukan Alm. ARTIDJO tidak memvonis terpidana atas dasar sentimentil,tetapi semuanya tergantung dgn perbuatan terdakwa/terpidana.

Pengabdian terakhirnya adalah Dewan Pengawas KPK yg menurut LHKPN, harta Artidjo ternyata hanya 182 juta rupiah juga 1 buah motor Astrea lama. Padahal dia mengadili kasus korupsi miliaran rupiah yg berpotensi ada upaya suap/gratifikasi dari terpidana atau para pencari keadilan lainnya yg menghendaki perkaranya manang atau bebas.

Sekarang hakim yg mulia itu sudah tiada. Palunya yang biasanya keras, kaku terdiam seakan menangisi sang empunya. Artidjo pasti bukan manusia sempurna, tapi harus kita akui, dialah hakim terbaik yg dimiliki bangsa Indonesia.

Dia Hakim berani dan Jujur yg kita sejajarkan dgn Almarhum Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, S. H. Mantan Jaksa Agung RI 2001, Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso Kapolri Tahun 1968-1971 beliau juga salah satu Tokon petis 50, Abraham Samad,S.H Ketua KPK, dan pada penegak hukum lainnya yg Jujur dan berani dalam penegakan hukum di Indonesia.

Kita tetap berharap dan bermimpi, ada ARTIDJO, Hoegeng, Baharuddin Lopa lainnya,dibangsa Ini, agar dalam keadaan apapun hukum tetap ditegakan walaupun langit Ini akan runtuh. Nama mereka selalu kita kenang,menjadi inspiratif, panutan, terlebihnya insan hukum dan para penegak keadilan agar tujuan dari hukum itu sendiri dapat terwujud dengan baik.

Selamat jalan Prof, apa yang anda perbuat di dunia, semoga jadi bekal yang sangat baik di akhirat. Bunga akan ditabur di jalan menuju pintu-Nya, pada orang yang tidak menggunakan jabatan sebagai peluang untuk memperkaya dirinya..

Rest In Peace.

Direktur Pusat Studi Hukum Veritas, Adv, Dosen dan Penggiat Anti Korupsi

Nyoman Rae

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *